ISLAM DIHADAPKAN KEPADA ILMU-SENI-FILSAFAT

Pemahaman Filsafat dikais dari buku yang cukup tua. Buku ini terbit tahun 1965 yang disusun oleh Drs. Sidi Gazalba. Judul buku “Islam dihadapkan kepada ilmu-seni-filsafat. Hal-hal yang bahas dalam buku ini antara lain:
Kebudayaan
Islam
Kebudayaan dan Islam
Ilmu dan Islam
Filsafat dan Islam
Kesimpulan.
Dari buku ini dapat dimabil catatan-catatan kecil terkait filsafat, dan dari catatan kecil inilah dapat difungsikan sebagai pendukung pemahaman filsafat.
Catatan kecil pada pengantar buku.
MENGAPA ILMU DIAMBIL SEBAGAI KRITERIUM.
Dalam abab ke XVIII dunia Barat telah memasuki kurun ilmiah [Aufklarung]. Dan bagi bangsa Indonesia kurun itu baru mulai dalam abad ke XX ini. Kecenderungan zaman dalam menjawab tentangan itu menutut kepda kita semua untuk setiap melihat fenomena didasarkan kepada tataran ilmiah. Karena ilmulah yang menetukan kepastian dan kebenaran [Kendati kepastian dan kebenaran adalah bersifat nisbi]
APA FILSAFAT ?
Filsafat merupakan penjelmaan kegiatan fikiran mencari kebenaran dari kebenaran demi kebenaran. Filsafat adalah system kebenaran sebagai hasil dari berfikir selangkah demi selangkah secara asadar, bebas, sitematik, radikal, dan universal..
ILMU ?
Ilmu digariskan sebagai cabang kebudayaan.Ilmu menyusun pengetahuan yang pasti dan benar, yang diserahkannya kepada teknologi untuk direalisasikan. Dalam kenyataan bahwa kebenaran ilmu dapat ditolak, direvisi, diperbarui dan disempurnakan. [misalnya: kedudukan bumi dalam stelsel matahari sebelum dan susudah Copernicus, kedudukan manusia dalam dunia biologi sebelum dan sesudah Lamrck-Darwin. Pembelahqn atom sebelum dan sesudah Eisntein)
ILMU DAN FILSAFAT
Ilmu membatasi medannya hingga alam yang dapat diteliti secara empiris. Filsafat menentang fikiran sejauh-jauhnya. Ilmu berhenti , manakala ia sampai diujung batas pengalaman. Dimana ilmu berhenti, disitu filsafat mulai. Esensi pertanyaan ilmu hanya dua, yakni: Bagaimana? Dan Apa Sebabnya?. Sedangkan pertanyaan filsafat terumus dalam dalam tiga pokok yakni: Apa itu?, Dari Mana? Kemana?
METODE ILMU:
Metode Ilmu untuk mendapatkan pengetahuan yang pasti dan benar adalah dengan:
[].Membebaskan fikiran dari segala ikatan (kepercayaan, tradisi, agama, anggapan-anggapan umum)
[].Melakukan penelitian ilmiah (research). Kedua unsure itu merupakan unsur ciri dari ilmu modern.
[].Eksperimen untuk memaksa alam meberikan hukun dan kaidahnya.
Catatan:
Ilmu menyatakan kepastian dan kebenaran itu melalui/berdasarkan hukum dan kaidah. Jadi yang dicari ilmu sesungguhnya adalah kausalitas[hubungan kausal dari peristiwa]. Jika kausalitas itu bersifat tetap,selanjutnya dirumuskan sebagai hukum.
Data buku
JUDUL: Islam Dihadapkan kepada Ilmu-Seni-Filsafat
PENULIS: Sidi Gazalba
PENERBIT: Tinta Mas Jakarta
TAHUN PENERBITAN: 1965
Catatan: Buku ini dikais dari komunitas buku lama Velodroom Sawojajar Malang, ditelusur dari stempel yang terdapat pada sampul buku. Buku ini milik dari Rustam Library.

90 MENIT BERSAMA DESCARTES

Descartes in 90 minutes, adalah judul asli buku ini, selanjutnya diterjemahkan oleh Frans Kowa. Ternyata memahami filsafat itu mudah, jika kita mengenal lebih dekat kehidupan dan karya para filsuf. Lebih menyanangkan jika ditulis dengan bahasa yang santai, sehingga mudah cerna. Buku ini sengaja membentangkan siapa Rene Descartes itu, ulai sejak masih usia belia hingga dewasa. Lugas dikupas tuntas, serasa tidak ditutupi "kelakukan" filsuf yang satu ini. Ternyata Descartes itu lumayan "nakal", membujang dan kawin layaknya "kumpul kebo" dilakukan. Semasa kecilnya pemalas, suka tidur alias ngantukkan.

FILSAFAT DAN SAINS SEBUAH PENGANTAR.

Dianjurkan kepada mahasiswa pascasarjana membaca buku ini, menurut pencermatan "Gudang Filsafat" buku ini sangat cerdas dalam membentangkan pengertian filsafat. Mudah dicerna, dan disetiap bab bahasan disediakan ruang latihan, oleh buku ini dinamai "pertanyaan pemandu". Sisi lain yang menarik dari buku ini adalah ringkasan yang terpapar dalam setiap bab, dan ringkasan ini merupakan simpulan singkat. Berikut contoh ringkasan yang termuat pada halaman 10.
[Kesimpulan]
Setidaknya, ada dua jawaban mudah untuk menjawab pertanyaan apa filsafat itu?
Yang pertama adalah filsafat sebagai sebuah aktivitas berpikir tentang realitas sebagai keseluruhan secara mendalam. sementara, yang kedua adalah filsafat sebagai sebuah analisis konseptual tentang tindak berpikir manusia, atau aktivitas berpikir tentang pikiran itu sendiri.
Filsafat itu sendiri setidaknya dapat dibagi menjadi tiga cabang.
Yang pertama, adalah metafisika. Metafisika adalah cabang filsafat yang merefleksikan hakekat dari realitas pada levelnya yang paling abstrak. Yang kedua. adalah epistemologi. Epistemologi adalah cabang filsafat yang merefleksikan tentang kapasitas pengetahuan manusia, hakikat pengetahuan manusia, dan genesis dari pengetahuan manusia. Yang terakhir, adalah etika. Etika adalah cabang filsafat yang merefleksikan tentang hakikat tindakan, dan bagaimana manusia harus bertindak di dalam dunia.
Data buku
JUDUL BUKU: Filsafat Sains : sebuah Pengantar
PENULIS: Reza A.A. Wattimena SS
PENERBIT: PT Grasindo, Jalan Palmnerah Selatan 22-28 Jakarta 10270. Telepon [021] 53696545. http://www.grasindo.co.id/
ISBN:978-979-0251-18-0
TEBAL: 322
CETAKAN: 2008
Bagian yang dibahas:
Bagian I :MENGETUK PINTU GERBANG FILSAFAT
  • Serba-serbi Filsafat
  • Ciri Filsafat
  • Membaca dan Memahami Tulisan Filsafat
  • Beberapa Cabang Umum Filsafat
Bagian II : ILMU PENGETAHUAN DALAM BINGKAI FILSAFAT
  • Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan
  • Sejarah Ilmu Pengatahuan
  • Metode Saintifik
  • Hukum dan Teori di Dalam Ilmu Pengetahuan
  • Ilmu-ilmu Alam dan Ilmu Sosial
  • Ilmu Pengetahuan dan Nilai [Value]
  • Filsafat-filsafat Ilmu Sosial
  • Filsafat Pengetahuan dan & Umat Manusia
  • Epilog
[]

RENE DESCARTES - DISKURSUS METODE

René Descartes (IPA: ʀəˈne deˈkaʀt; lahir di La Haye, Perancis, 31 Maret 1596 – meninggal di Stockholm, Swedia, 11 Februari 1650 pada umur 53 tahun), juga dikenal sebagai Renatus Cartesius dalam literatur berbahasa Latin, merupakan seorang filsuf dan matematikawan Perancis. Karyanya yang terpenting ialah Discours de la méthode (1637) dan Meditationes de prima Philosophia (1641).Buku ini merupakan terjemahan dari buku " Discourse on Method", Hackkerr Publishing Company Inc, Indian Polish/Cambrige, 1993. Dengan cermat buku ini oleh Ahmad Faridl Ma'aruf, dan judul disesuaikan menjadi DISKURSUs METODE.
Descartes, kadang dipanggil "Penemu Filsafat Modern" dan "Bapak Matematika Modern", adalah salah satu pemikir paling penting dan berpengaruh dalam sejarah barat modern. Dia menginspirasi generasi filsuf kontemporer dan setelahnya, membawa mereka untuk membentuk apa yang sekarang kita kenal sebagai rasionalisme kontinental, sebuah posisi filosofikal pada Eropa abad ke-17 dan 18.
Descartes adalah salah satu representasi dari semangat manusia modern yang telah mengalami kelahiran kembali. sebuah semangat yang telah demikian tua sekarang semakin tampak mulai lelah. Sebab,kita semakin bisa maklum akan apa yang dimaksud Descartes dengan (ilmu)pengetahuan. Dengan pengetahuan jenis ini , ia menawari kita menjadi le maitres et pressure de la nature, pangeran yang gilang gemilang dengan cahaya ilmu dan menjadi penguasa dunia.

FILSAFAT ILMU - Kontemplasi Filosofis tentang Seluk-Beluk Sumber dan Tujuan Ilmu Pengetahuan

Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu
Kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu
Sedang berfilsafat dimulai dengan kedua-duanya.
Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita belum tahu. Berfilsafat berati mengoreksi diri, semacam keberanian berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah terjangkau.
Karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang-orang ilmuwan tidak lekas puas mengenai ilmu yang hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan lainnya. Dia ingin tahu kaitan ilmu dengan moral dan kaitan ilmu dengan agama. Dia ingin yakin apakah ilmu itu membawa kebahagiaan bagi dirinya.
Karakter berfikir filsafat yang kedua adalah mendasar, artinya setiap ilmu yang ada tak lagi dipercaya sebagai kebenaran. Kebenarannya dipertanyakan, mengapa ilmu itu bisa benar, dan apa yang dimaksud dengan kebenaran di sini.
Menikmati Filsafat yang mengasyikkan, memburu pengetahuan dengan meragukan setiap pengetahuan dan meyakini keraguan tas segala hal melalui berbagai pertanyaan yang dijawabnya sendiri.
ISTIMEWA BUKU INI
Buku ini termasuk kategori istimewa, karena merupakan buku filsafat ilmu yang memberikan ringkasan dari apa yang dibahas. Tepatnya pada halaman 231 - 242, buku ini meringkas sajian serta menyederhanakan. Sangat cocok untuk mahasiswa yang sedang mengulang, karena tidak lulus ujian.
Data BuKu
JUDUL: Filsafat Ilmu: kontemplasi Filosofis tentang Seluk Beluk Sumber dan Tujuan Ilmu Pengetahuan
PENULIS: Drs. Beni Ahmad Saebani, MSi
PENERBIT: CV. Pustaka Setia. Jl. BKR [Lingkar Selatan] No. 162-164. Telp: 022-5210588. Bandung 40253.
CETAKAN: Pertama Februari 2009
TEBAL: 264 halaman ; 16,5 x 23,5 cm
ISBN: 978-979-730-941-1

Logika (5), Sokrates dan Percakapan Dialektik

Kali ini kita akan membahas model Dialektika yang diungkapkan masih oleh salah satu filsuf terkenal dari masa Yunani Kuno, yaitu Sokrates dari Athena. Sokrates terkenal memang bukan karena metode Dialektika. Ia menjadi sangat terkenal karena ia memilih minum racun untuk mempertahankan prinsipnya dalam pengadilan kota Athena. Namun, sebenarnya, peristiwa ini terjadi justru sebagai akibat langsung dari metode Dialektika yang ia pakai. Kenapa demikian?

Metode Dialektika Sokrates agak sedikit berbeda dengan pola yang dipakai oleh Zeno. Ini karena Sokrates memang memaksudkan Dialektika justru pada asal katanya, yaitu bercakap-cakap atau berdialog. Ya, Sokrates memang adalah orang yang senang bercakap dengan orang lain yang bertemu dengannya di sepanjang jalan kota Athena. Ia selalu mengajak mereka diskusi untuk sesuatu yang ia anggap penting.

Tapi, tentu saja percakapan model diskusi yang dilakukan oleh Sokrates memang tidak selamanya disambut hangat. Apalagi bila dipandang dari kacamata kaum Sofis. Mereka ini adalah rival Sokrates. Ini karena kaum Sofis adalah sekelompok orang yang justru mengambil keuntungan dari masyarakat melalui kecakapannya berorasi atau berpidato. Nah, seringkali kaum Sofis ini dibuat jengkel oleh Sokrates karena mereka merasa dipermalukan di depan banyak orang dengan metode Dialektika. Lalu, seperti apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh Sokrates dengan Dialektika ini?

Berikut adalah ilustrasi yang dibuat untuk memberikan gambaran seperti apa kiranya metode Dialektika yang dipergunakan oleh Sokrates.
Suatu hari, Sokrates bertemu dengan Meno, sahabat lamanya, di kios ikan pasar Athena. Begitu senangnya, sehingga mereka lama berpelukan. Sokrates kemudian mengajak Meno untuk rehat di sebuah emperan rumah dekat pasar sambil sekaligus berteduh.
"Apa yang sedang kau lakukan saat ini, wahai Meno saudaraku?"
"Aku sedang menjajagi untuk membuka kios usaha di Megara, Sokrates. Makanya aku berkunjung ke Athena untuk melihat bagaimana mereka mengelola kiosnya dan barang-barang apa saja yang dapat ku ambil dari sini."
"Oh begitu. Bukankah engkau sudah punya ladang gandum yang begitu luas dari ayahmu? Apa itu tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhanmu?"
"Tidak Sokrates. Itu belum cukup bagiku. Aku ingin lebih dari ayahku. Ingin seperti Kranos, saudagar terkaya di Megara. Dia hidup sangat senang dengan semua kemewahan yang ia punya."
"Hidup sangat senang? Bisa kau berikan keterangan yang lebih jelas lagi wahai Meno?"
"Kau memang tidak tahu apa artinya hidup mewah Sokrates. Kranos itu punya segala-galanya. Budak yang ia punya lebih dari 40 orang. Perempuan pun suka padanya. Tidak kurang dari belasan perempuan hilir mudik datang ke rumah Kranos tiap harinya. Merayu untuk menjadi istrinya. Rumah itu amat megah. Berdiri kokoh dengan tiang granit dan lantai batu pualam. Tidak cukup sampai di situ, ia, Kranos, juga memiliki 4 kereta dan 10 ekor kuda. Itu hebat Sokrates. Itu baru namanya hidup."
"Terus, apa hubungannya antara hidup sangat senang dan hebat? Apakah kalau kita hidup dengan hebat maka akan hidup dengan sangat senang?"
"Itu betul Sokrates. Kita akan hidup sangat senang kalau kita hidup dengan hebat. Makanya aku datang jauh-jauh ke Athena agar bisa belajar dan mendapatkan pengetahuan yang lebih daripada Kranos. Aku akan menjadi lebih hebat dari Kranos tentunya."
Di tengah percakapan ini, seorang anak kecil bersama ibunya lewat di depan mereka. Anak itu sangat senang sekali karena ibunya membelikan ia permen gula. Ia jalan berjingkat-jingkat kecil dengan satu tangan menggenggam permen gula dan tangan lainnya memegang tangan si ibu.
"Kau lihat anak kecil itu wahai Meno?"
"Ya Sokrates. Memangnya ada apa?"
"Tadi anak kecil itu begitu senangnya. Tidakkah itu juga hebat Meno?"
"Hebat apanya Sokrates? Menurutku, itu wajar saja. Setiap anak yang diberi permen gula tentu akan merasa sangat senang."
"Jadi, kau menganggap kalau hebat itu tidak identik dengan rasa senang?"
"Maksudmu apa Sokrates?"
"Tadi kau mengatakan kita akan hidup sangat senang kalau kita hidup dengan hebat. Bukankah itu sama dengan mengatakan bahwa rasa senang itu identik dengan hebat? Artinya, kalau kita hidup dengan hebat, itu akan membuat kita hidup senang. Bukankah begitu wahai Meno sahabatku?"
Meno bingung dengan pertanyaan dan kata-kata Sokrates. Ia mulai kehilangan kata-kata.
"Iya, mungkin, Sokrates."
"Kenapa mungkin? Kalau rasa senang itu identik dengan hebat, maka anak kecil yang tadi mendapat permen gula itu pun bisa kita bilang hebat Meno. Hanya dengan sebuah permen gula yang kecil, ia bisa merasa sangat senang."
Meno akhirnya tak mampu berkata-kata. Ia merasa terpojok dengan ucapan Sokrates. Hanya dengan contoh kecil saja, Sokrates telah membuat lamunannya yang ia bangun selama bertahun-tahun menjadi sia-sia.
"Aku tidak melarangmu menjadi hebat atau melebihi kehebatannya Kranos, wahai Meno. Aku ingin kamu menentukan tujuan hidupmu menjadi hebat bukan semata-mata karena melihat orang lain."
Setelah itu, Sokrates menepuk pundak Meno, lalu mengajaknya pergi bertandang ke rumahnya untuk sekadar bersantap ala kadarnya. Meno mencari temannya terlebih dahulu
dan mereka bertiga menuju rumah Sokrates.

Nah, dalam dialog Sokrates dengan Meno di atas, kita dapat melihat bahwa Sokrates menggunakan Dialektika sebagai satu cara untuk menyadarkan orang lain itu akan pengertian yang sesungguhnya tentang makna suatu kata. Dengan contoh-contoh sederhana, Sokrates mampu mengurai retorika menjadi suatu pembicaraan tanpa isi. Melalui cara inilah ia dikenal sebagai pembicara ulung dan menjadi sangat disegani di seantero Athena. Tetapi, ia pun sekaligus menjadi orang yang paling menjengkelkan dan paling dimusuhi oleh orang-orang yang tidak menyukainya.

Cara seperti ini yang diberi nama oleh Sokrates sebagai maieutike tekhne (seni kebidanan). Ini karena Sokrates selalu mengganggap dirinya seibarat "bidan" yang membantu melahirkan pengertian yang benar dalam pikiran orang lain. Dalam hal ini, ia sangat terinspirasi oleh ibunda yang memang adalah seorang bidan.

Jadi, apakah kini anda sudah memahami metode Dialektika Sokrates? ;-)

Logika (4), Dialetika Zeno dari Elea

Seperti yang telah saya janjikan sebelumnya, kini saya akan membahas satu jenis pola pikir yang banyak digunakan oleh para filsuf, yaitu Dialektika. Walaupun tidak terlalu lengkap, tapi saya akan membahas pola Dialektika yang dibangun oleh tiga filsuf yang sangat menarik. Selamat membaca ...! ;-)

Bila dilihat dari sejarahnya, Dialektika ini sebenarnya berasal dari kata dialegestai (Yunani) yang berarti "percakapan". Para filsuf sebelum Sokrates dari Athena (± 469 – 399 SM), seperti Zeno dari Elea (± 490 – 430 SM), sudah menggunakan istilah ini sebagai suatu nama untuk metode berpikir. Ini dipakai, terutama, ketika Zeno berusaha untuk mempertahankan pandangan sang guru, Parmenides dari Elea (± 515 – 440 SM) yang menyatakan bahwa "alam semesta itu satu adanya dan tidak ada perubahan di dalamnya". Pandangan yang demikian ini dikenal sebagai suatu jenis pandangan yang monistik tentang semesta.

Sehubungan dengan pikiran Zeno, ada beberapa uraian menarik yang diberikan olehnya ketika ia sedang berdialektika. Misalnya, saat ia mengajukan masalah pelik yang membingungkan banyak orang. Berikut adalah salah satu contoh masalah yang dikemukakannya.
Achilles tidak dapat memenangi lomba lari melawan kura-kura
Membaca masalah di atas, mungkin kita akan sedikit tersipu, heran, atau malah bingung. Kok bisa ya filsuf mengemukakan masalah yang ganjil serupa ini? Apa memang kurang kerjaan atau gimana ya? ( Nah lho, komentar kok gak sopan ...! ;-) )

Ya, saat Achilles dinyatakan tidak bisa menang melawan kura-kura dalam lomba lari, mungkin ini seperti bualan. Tetapi, kalau boleh saya bilang, ini bualan yang paling argumentatif. (^_^) Sebagai orang Yunani masa itu, Zeno tahu kalau Achilles adalah seorang pelari yang handal. Bahkan, dalam mitologi Yunani, Achilles adalah seorang pahlawan pada Perang Troya. Jadi, kalau Achilles harus bertarung lari dengan seekor kura-kura yang sangat lambat, maka "sungguh mustahil sekali" kalau kura-kura bisa menang.

Akan tetapi, di balik masalah yang Zeno kemukakan, sebenarnya ada suatu persoalan pelik yang hanya bisa dipahami menggunakan pendekatan fisika maupun matematika untuk mengatakan pandangan Zeno itu benar. Walalupun demikian, ada syarat tertentu yang diandaikan oleh pernyataan ini. Syarat ini tiada lain adalah kura-kura harus memulai lari lebih dahulu daripada Achilles. Kenapa harus seperti itu? (Aneh, walaupun mulai duluan, kan gak bakalan menang juga. ;-) )

Syarat di atas dibutuhkan dalam memahami pernyataan Zeno dari sisi fisika maupun matematika. Dari segi fisika, pernyataan Zeno mendapatkan pembenaran kalau hal ini dikaitkan dengan analisis mengenai waktu. Misalnya Achilles (A) dan kura-kura (K) memulai lomba pada waktu 00.00. Saat lomba dilaksanakan, K memulainya terlebih dahulu pada 00.01 dan A membiarkannya sampai K itu melaju cukup jauh. Dengan kecepatan lari yang dimilikinya, A berlari mengejar K hingga melampauinya dan menunggu K menghampirinya kembali.

Menilik cerita lomba di atas, tentunya A lebih unggul secara kemampuan dan dapat dipastikan siapa pemenangnya. Namun, dalam kaitannya dengan waktu, justru K yang lebih dahulu memimpin. Ini karena K memulai lomba pada 00.01. Saat kita memahami ini semua dalam kerangka waktu, maka A-lah yang akan mengalami kekalahan. Ini karena waktu A memulai lomba misalnya pada 30.00, setelah menunggu K berjalan cukup jauh. Dalam teori mengenai waktu, tidak ada sesuatu apapun yang dapat melampaui atau mendahului waktu. Tidak juga kecepatan cahaya.

Nah, memahami pernyataan Zeno dalam kaitannya dengan kerangka waktu justru akan dapat membuat kita sadar bahwa pendapat Zeno ini ternyata ada benarnya.

Cara lain untuk memahami pernyataan Zeno adalah memahaminya dari sisi matematika (walaupun ada fisikanya juga sih). Berikut ini adalah uraiannya.

Saat A dan K berlomba, dengan K yang memulainya terlebih dahulu, K ini sebenarnya sedang mengambil suatu posisi terhadap A. Maksudnya membuat suatu posisi di sini adalah K membuat jarak dengan A dan membuat suatu titik acuan relatif terhadap A. Ketika K bergerak, maka posisi itu pun sudah pasti akan berubah. Nah, saat A bergerak mendekati posisi K atau malah melampauinya, sudah pasti jarak antara A dengan K akan berkurang, sama, atau malah menjauh. Pada saat ini terjadi, posisi A bisa berada di belakang, sama, atau malah di depan K.

Kalau kita menggunakan pola pikir yang biasa dipakai sebagai dasar analisis, artinya hanya mempertimbangkan jarak sebagai ukuran pokok dalam memahami persoalan di atas, maka kita akan keliru memahami pernyataan Zeno. Sebab, menurut saya, Zeno tidak sedang mempertimbangkan jarak sebagai ukuran pokok. Yang ia pikirkan, mungkin, adalah posisi K yang tidak pernah bisa dijangkau oleh A. Artinya, saat K mencapai posisi tertentu, ini tidak akan dapat dijangkau oleh A karena posisi K selalu berubah secara relatif terhadap A. Tentu saja posisi yang relatif ini masih berlaku saat jarak antara A dan K adalah 0 alias A = K atau jarak antara A dan K adalah A > K. Dengan ini, kita tidak dapat mengatakan A itu menang atas K berdasarkan posisinya.

Bingung? (Wah, benar-benar deh, belajar kali ini cukup melelahkan. ;-1 )

Kalau bingung, ada cara alternatif lainnya untuk memahami ini. Zeno itu benar kalau Zeno memang berpikir "curang". Ya, seandainya Zeno berpikir demikian, ini juga bukan sesuatu yang mustahil. Pikiran curang ini adalah dengan membayangkan kalau Achilles ternyata bukan hanya melawan seekor kura-kura, tapi melawan 1.000 ekor kura-kura yang bekerja sama dan mirip satu sama lain. He he ... (Dasar, kirain serius. Gak tahunya guyon ... !!! ;-p)

Demikian uraian mengenai Dialektika dari Zeno. Posting berikutnya, kita akan membahas Dialektika model lain yang tak kalah seru. ^_^