Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah

Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Instruction) memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Langkah-langkah:

1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
4. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.
5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

Kelebihan:

1. Siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserapnya dengan baik.
2. Dilatih untuk dapat bekerjasama dengan siswa lain.
3. Dapat memperoleh dari berbagai sumber.

Kekurangan:

1. Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai.
2. Membutuhkan banyak waktu dan dana.
3. Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini

Download Silabus dan RPP IPA SMP Berkarakter


Nama File : KTSP IPA Terpadu SMP 1b.zip
Deskripsi : File berisi RPP  KTSP Semester 2 mata pelajaran IPA Terpadu untuk kelas VII, satuan pendidikan SMP 

Download


Nama File : KTSP IPA Terpadu SMP 2b.zip
Deskripsi : File berisi RPP KTSP Semester 2 mata pelajaran IPA Terpadu untuk kelas VIII, satuan pendidikan SMP  

Download


Nama File : KTSP IPA Terpadu SMP 3a.zip
Deskripsi : File berisi RPP Semester 1 mata pelajaran IPA Terpadu untuk kelas IX, satuan pendidikan SMP  

Download


Nama File : KTSP IPA 1a.zip
Deskripsi : File berisi RPP  KTSP Semester 1mata pelajaran IPA untuk kelas VII, satuan pendidikan SMP
 
Download


Nama File : KTSP IPA 3b.zip
Deskripsi : File berisi RPP KTSP Semester 2 mata pelajaran IPA untuk kelas IX, satuan pendidikan SMP

  Download


Nama File : KTSP PKn SMP 1.zip
Deskripsi : File berisi RPP dan Silabus KTSP mata pelajaran PKn kelas VII, satuan pendidikan SMP 

Download


Nama File : KTSP IPA Terpadu SMP 2a.zip
Deskripsi : File berisi RPP KTSP Semester 1 mata pelajaran IPA
kelas VIII, satuan pendidikan SMP 
Download


Nama File : KTSP IPA 3a.zip
Deskripsi : File berisi Silabus KTSP Semester 1 mata pelajaran IPA kelas IX, satuan pendidikan SMP 

Download


Nama File : KTSP IPA 3b.zip
Deskripsi : File berisi Silabus KTSP Semester 2 mata pelajaran IPA kelas IX
, satuan pendidikan SMP
Download


Nama File : KTSP IPA 2a.zip
Deskripsi : File berisi Silabus KTSP Semester 1 mata pelajaran IPA kelas VIII
, satuan pendidikan SMP 
Download


Nama File : KTSP IPA 2b.zip
Deskripsi : File berisi Silabus KTSP Semester 2 mata pelajaran IPA kelas VIII
, satuan pendidikan SMP  
Download





Nama File : KTSP IPA 1a.zip
Deskripsi : File berisi Silabus KTSP Semester 1 mata pelajaran IPA kelas VII, satuan pendidikan SMP 



Nama File : KTSP IPA 1b.zip
Deskripsi : File berisi Silabus KTSP Semester 2 mata pelajaran IPA kelas VII, satuan pendidikan SMP 

PENGANTAR LOGIKA

Titel buku ini LOGIKA, namun dari bahasan didalam terdapat beberapa materi yang bersentuhan langsung dengan filsafat ilmu. Materi yang bersentuhan itu terkait dengan "Kerancuan Pikir" ( Fallacy). Buku ini membekali orang untuk memahami cara berpikir deduksi, yang meletakkan nalar/rasio dalam mencerna kebenaran. Khusus yang membicarakan kerancuan pikir, buku ini meletakan bahasan di halaman 59- 67. tepatnya di bab enam tentang kerancuan berpikir.
Merujuk dari pemikiran Irving M Copi (introduction to logic, 1959:51). Dalam buku itu diaungkap berbagai bentuk arguymen yang rancu, dan selajutnya dikelompokkan menjadi dua besar, yakni;
1. Formal Fallacy atau Kerancuan Formal
2. Informal Fallacy atau Kerancuan Informal.

Kerancuan Revelansi adalah kerancuan pada argumen yang premis-premisnya secara logikal tidak relevan. secara substansial ridak ada sangkut pautnya dengan kebenaran atau kesalahan dari kesimpulan yang mau ditegakkan oleh premis-premis yang diajukan.

Artinya, antara premis-premis dan kesimpulan tidak terdapat hubungan logikal. Cara penyampaian mempengaruhi aspek psikologis sehingga antara premis dan kesimpulan terdapat hubungan logikal.

Irving M. Copi mengemukakan 10 jenis Kerancuan Relevansi:

1. Konklusi Tidak Relevan/Irrelevant Conclusion/Ignoratio Elenchi
Terjadi bila 1 argumen yang seharusnya dimasukan tidak mendukung 1 kesimpulan tersebut, namun diarahkan dan digunakan untuk membenarkan 1 kesimpulan yang lain.

2. Merujuk kekuatan/Argumentum ad Baculum/Appeal to Force
Terjadi bila orang dengan mendasarkan diri pada kekuatan/ancaman penggunaan kekuatan memaksakan agar 1 kesimpulan diterima atau disetujui.

3a. Argumentum ad Hominem/Abusive
Terjadi bila suatu argumen diarahkan untuk menyerang pribadi orangnya, dengan menunjukkan kelemahan/kejelekan orang tersebut dan tidak berusaha secara rasional membuktikan bahwa apa yang dikemukakan orang yang diserang itu salah.

3b. Argumentum ad Hominem/Circumstantial
Terjadi sebuah argumen diarahkan pada pribadi orangnya dalam kaitan dengan situasi/keadaan orang itu sendiri.

4. Argumentum Ignorantiam
Terjadi bila suatu hal dinyatakan benar semata-mata karena belum dibuktikan bahwa hal tersebut salah/sebaliknya suatu dinyatakan salah karena belum dibuktikan bahwa hal itu benar.

5. Argumentum ad Misericordiam/Appeal to pity/Rasa Iba
Terjadi bila rasa kasihan digugah untuk mendorong diterimanya /disetujuinya suatu kesimpulan. Terjadi pencampuradukan perasaan dan jalan pikiran orang sehingga terdorong untuk menyetujui/tidak menyetujui sesuatu.

6. Argumen ad Populum
Terjadi bila orang berusaha mengemukakan dan memenangkan dukungan untuk suatu pendapat/pendirian dengan jalan menggugah perasaan/emosi; membangkitkan semangat berkobar-kobar pada masyarakat.

7. Argumentum ad Verecundiam
Terjadi bila usaha memperoleh kebenaran/dukungan atas suatu kesimpulan/pendapat dilakukan dengan jalan mendasarkan diri pada kewibawaan orang terkenal, namun keahlian terletak di bidang lain.

8. False Cause/Kausa Palsu
Terjadi dengan cara menyatakan adanya hubungan kausal (sebab-akibat) antara 2 hal pada hubungan kausal itu tidak ada.

9. Complex Question/Pertanyaan Majemuk
Terjadi bila diajukan 1 pertanyaan majemuk tapi kemajemukannya tidak diketahui/ dikaburkan dan untuk pertanyaan tersebut dituntut hanya 1 jawaban tunggal.

10. Begging the Question/ Petitio Principii
Mengasumsikan kebenaran dari apa yang mau dibuktikan sebagai benar dalam upaya untuk membuktikan kebenarannya. Sering penggunaan kata-kata untuk mengungkapkan argumen ini mengaburkan fakta bahwa tersembunyi dalam salah 1 dari premis-premis yang diasumsikan tercantum kesimpulan.


Dampak Teknologi Terhadap Lingkungan

     Teknologi secara umum berarti keseluruhan peralatan dan prosedur yang terus mengalami penyempurnaan, baik di lihat dari segi pencapaian tujuan maupun proses pelaksanaannya. Teknologi sebagai budidaya manusia dalam beradaptasi dengan alam sesuai dengan maksud dan tujuan manusia penggunanya. Alhasil teknologi adalah ide-ide manusia dalam mempermudah aktifitas pencapaian tujuan.
Aktifitas manusia yang dinamik dan cenderung berkembang tanpa batas sangat mempengaruhi keadaan lingkungan hidup. Industri yang mengalami laju pertumbuhan relatif cepat merupakan bagian dari teknologi. Teknologi industri sebagai teknologi yang modern memiliki andil besar dalam proses perubahan panas bumi (Global Warming).
        Beberapa dampak negatif yang diakibatkan oleh proses industri antara lain, pencemaran udara, pencemaran air dan pencemaran tanah. Proses industri yang baik harus melakukan upaya meminimalisir  pengaruh negatif terhadap lingkungan hidup Undang-Undang No.23 Tahun 1997 mengatur tentang analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dan pelaku industri harus dapat memperkirakan dan mencegah kemungkinan timbulnya dampak negatif terhadap lingkungan hidup.
Pembangunan industri dapat menimbulkan dampak negatif berupa memperburuknya kondisi biografis-kimia.
 Masyarakat desa Kembangkuning dan Cibinong merasa terganggu dengan munculnya power plan, industri listrik yang menggunakan batu bara. Gangguan berupa debu pembakaran yang sering mengotori udara dan pekarangan penduduk. Pabrik-pabrik lain di sekitarnya juga kadang membuang limbah ke sungai tanpa ada pengolahan sebelumnya mengakibatkan sungai Cikembang hilang biotanya, karena sungai tempat menerima limbah telah berubah menjadi bersifat asam dan mengandung bahan kimia yang berbahaya.Pembangunan industri yang terus mengalami perkembangan dan memerlukan ruang sementara ruang tidak mengalami perubahan. Akibatnya terjadi benturanan kepentingan, seperti menyusutnya lahan pertanian padahal jumlah penduduk yang butuh pangan semakin bertambah. Berkaitan dengan ketersediaan lokasi yang terbatas, pemerintah telah menetapkan wilayah-wilayah pusat pertumbuhan serta lokasi bagi pembangunan industri yang sesuai yaitu Pasal 20 UU No Tahun 1984 tentang Perindustrian. Rencana umum tata ruang regional memberikan peranan yang sangat penting dalam upaya pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan hidup.

    Pembangunan industri menimbulkan dampak negatif terhadap sosial, ekonomi dan budaya. Mempengaruhi pada ekonomi tradisional, ketentraman lingkungan dan perubahan budaya akibat interaksi para pelaku industri. Ketika PT. ELEGANT TEXTILE mulai beroperasi di tahun 1973, timbul budaya pergaulan bebas yang sangat mengkhawatirkan di sekitar lokasi industri. Juga timbul berbagai ketidakpuasan masyarakat baik antara masyarakat industri dengan karyawan maupun antara masyarakat industri dengan masyarakat sekitar. Dimana pola hidup baru yang dipengaruhi industri mendorong adat istiadat dan moral sebagai pilar kehidupan menjadi merosot.

Produk Industri Berdampak Terhadap Lingkungan
Disamping proses teknologi/industri yang memiliki pengaruh dampak negatif terhadap lingkungan, juga produknya tidak kalah andilnya dalam proses pencemaran lingkungan. Sebagai contoh kendaraan bermotor dengan bahan bakar fosil, asap buangannya menyumbang karbon yang tidak sedikit bagi atmosfir bumi. Demikian pula teknologi pembuatan material berbahan plastik sangat mengganggu kestabilan sumber daya alam tanah karena lambatnya penguraian secara alami.

        Artikel Terkait :

    FUNGSI TEKNOLOGI DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

    Kemajuan teknologi telah mendorong manusia untuk mengubah alam dan membuat hal-hal baru. Melalui teknologi , sesuatu yang dulu tidak mungkin kita lakukan sekarang menjadi mungkin untuk dilakukan, sesuatu yang susah dikerjakan kini menjadi mudah dikerjakan. Telah banyak dampak lingkungan yang muncul akibat teknologi. Teknologi telah dianggap sebagai alat bagi manusia untuk mengekploitasi lingkungan. Namun, teknologi juga dikembangkan manusia untuk mengelola lingkungan guna pelestariannya.
    Pada bab ini kita akan mempelajari fungsi teknologi dalam pengelolaan lingkungan hidup karena itu setelah mempelajarinya kita diharapkan dapat memahami tentang :
    1.      Pengertian dan fungsi teknologi dalam pengelolaan lingkungan
    2.      Jenis-jenis teknologi dalam  pengelolaan lingkungan
    3.      Dampak perkembangan teknologi terhadap lingkungan
    A.     Pengertian dan fungsi teknologi dalam pengelolaan lingkungan
    Apakah kita sudah mengetahui yang dimaksud dengan teknologi? Apabila kita  pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda motor tentu akan lebih cepat sampai ke tujuan dari pada yang berjalan kaki ; menumbuk padi dengan menggunakan mesin penggiling jauh lebih mudah dari pada di tumbuk dengan kayu. Cepat dan mudah itulah tujuan dari pemanfaatan teknologi.
    Teknologi adalah produk atau hasil dari sebuah ilmu pengetahuan yang bersifat praktis. Teknologi diciptakan manusia untuk membantu mengolah alam, mempermudah kegiatan, dan lain sebagainya yang terkait dengan kebutuhan manusia. Dapat kita katakan bahwa teknologi merupakan cara dan usaha untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Karena melalui pemanfatan teknologi, manusia dapat meningkatkan kesejahteraannya.
    Lingkungan merupakan sumber daya yang menjamin kehidupan  manusia beserta makhluk hidup lainnya. Dari lingkunganlah, manusia dapat memperoleh apa yang dibutuhkan, mulai dari kebutuhan  dasar seperti makan dan minum hingga kebutuhan yang lebih kompleks. Kebutuhan tersebut terus meningkat dari waktu ke waktu, seiring dengan meningkatnya jumlah manusia.
    Antara meningkatnya kebutuhan manusia dengan kemampuan lingkungan untuk memproduksi sering tidak seimbang. Akibatnya terjadi kelangkaan sumber-sumber pemenuhan kebutuhan. Persaingan antara manusia pun terjadi semakin ketat. Berbagai cara terus dilakukan manusia untuk bisa memanfaatkan  alam lingkungan ini.
    Kita patut bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena kita telah diciptakan sebagai manusia yang berakal. Akal dikaruniakan Tuhan adalah untuk berfikir, agar manusia mendapatkan ilmu pengetahuan dan menciptakan teknologi. Melalui teknologi, manusia mampu mengubah apa-apa yang di alam sehingga dapat terpenuhi kebutuhannya.
    Kebutuhan manusia sangat tidak terbatas dan beranekaragam. Karena itu, perkembangan teknologi juga bermacam-macam sesuai kebutuhannya tersebut. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan maka teknologi juga mengalami perkembangan dengan pesat. Ada teknologi  pertanian, teknologi industri, teknologi transportasi, teknologi komunikasi, teknologi kesehatan dll.
    Saat ini kehadiran teknologi telah menjadi bagian yang sangat penting dalam pengelolaan lingkungan. Melalui teknologi, manusia tidak hanya memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan, akan tetapi juga untuk menjaga dan melestarikan kualitas lingkungan. Dengan demikian, teknologi juga berfungsi untuk mengelola lingkungan ini agar tetap serasi dan selaras dengan kehidupan manusia.
    B.     Jenis-jenis teknologi dalam  pengelolaan lingkungan
    Teknologi juga memiliki pengertian sebagai cara yang memudahkan manusia untuk melakukan  kegiatan. Hal ini berarti teknologi tidak hanya berhubungan dengan alat-alat yang modern. Teknologi  juga ada yang sederhana yang diciptakan manusia sesuai dengan kemampuannya. Misalnya, membajak sawah dengan menggunakan traktor adalah pemanfaatan teknologi modern. Akan tetapi membajak sawah dengan menggunakan bajak yang ditarik oleh kerbau merupakan teknologi sederhana. Nah sekarang kita sudah paham perbedaannya.

    Pengelolaan Lingkungan Sekolah

    Lingkungan Sekolah yang kondusif sangat diperlukan agar tercipta proses pembelajaran yang bermutu. Pemberian pengetahuan dan pembentukan kesadaran tentang perilaku hidup bersih dan sehat dirasa sangat efektif ketika dilakukan pada siswa  sejak di bangku sekolah dasar. Diharapkan ketika
    berada di luar lingkungan sekolah, mampu menerapkan hidup bersih dan sehat seperti saat di sekolahnya.
    Sekolah yang berbudaya lingkungan sebagai salah satu wadah peningkatan pengetahuan dan kemampuan siswa memiliki peran penting dalam menyumbang perubahan yang terjadi dalam keluarga. Bagaimana menghargai air bersih, memahami pentingnya penghijauan, memanfaatkan fasilitas sanitasi secara tepat serta mengelola sampah menjadi pupuk tidak terpisahkan dalam upaya peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat. Sebagai komponen terkecil dalam masyarakat perubahan yang terjadi dalam keluarga akan memberi pengaruh pada masyarakatnya.
    Pengolahan lingkungan sekolah dapat dilakukan melalui peningkatan pengetahuan dan kemampuan siswa dalam pengelolaan air, sampah, energi dan halaman yang ada disekitar sekolah.
    1.      Pengelolaan Air di Sekolah
            Kita dapat membayangkan apabila di sekolah kekurangan air bersih ! tentunya sekolah menjadi kotor karena jarang atau tidak pernah dibersihkan, kamar mandi mengeluarkan bau yang tidak sedap, dan merasa tidak nyaman atau kesulitan bila kita hendak ke WC. Akibatnya lingkungan sekolah menjadi tidak sehat sehingga dapat mengganggu kenyamanan belajar.
    Ketersediaan air bersih disekolah sangat diperlukan dalam jumlah yang relatif banyak. Hal ini mengingat jumlah warga sekolah yang terdiri dari siswa, guru, dan karyawan dapat mencapai ratusan orang. Sehinga kebutuhan air bersih akan lebih banyak lagi. Jenis kebutuhan air disekolah adalah untuk minum, membersihkan lantai, membersihkan WC, mencuci peralatan laboratorium dan menyiram tanaman.
    Sumber air bersih yang digunakan bagi pemenuhan kebutuhan warga sekolah dapat berasal dari air PDAM, sumur gali, sumur pompa, atau sumber mata air, yang dialirkan bagi sekolah-sekolah yang terletak di pegunungan. Untuk mengurangi keterbatasan air bersih disekolah, dapat dilakukan dengan upaya penghematan melalui penentuan prioritas. Misalnya, air bersih hanya digunakan untuk minum dan mengisi bak mandi, sedangkan untuk keperluan lainnya seperti membersihkan WC, membersihkan lantai dan menyiram tanaman gunakanlah air yang berasal dari bak-bak penampungan air hujan.
    Karena itu sekolah perlu menyediakan bak-bak penampungan air hujan, baik berupa kolam maupun sumur-sumur resapan. Sumber air yang mengisi kolam maupun sumur resapan sebaiknya berasal dari air hujan yang jatuh dari atap bangunan sekolah atau dari air bekas wudhu dan cuci tangan. Kemudian dialirkan melalui saluran pipa-pipa yang menuju kolam maupun sumur resapan, sehingga airnya masih bersih belum bercampur lumpur.
    Sekolah-sekolah yang berada di negara-negara maju umumnya sudah memiliki teknologi pengelolaan air limbah. Sehingga air bersih yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan sekolah tidak berasal dari sumbernya, akan tetapi menggunakan kembali air yang sudah dipakai melalui teknologi air limbah.
    Teknologi pengolahan air limbah yang digunakan tentu sangat mahal harganya. Negara kita belum mampu memenuhi hal itu, apalagi diadakan disekolah-sekolah yang jumlahnya sangat banyak. Ada caranya sebenarnya lebih murah untuk mengatasi keterbatasan air bersih disekolah yang dapat kalian lakukan. Cara tersebut adalah dengan melakukan penghematan air saat pamakaian dan selalu menutup kran air apabila terlihat terbuka sehingga air tidak terbuang percuma.

    2.      Pengelolaan Sampah di Sekolah
    Agar pengelolaan sampah berlangsung dengan baik dan mencapai tujuan yang diinginkan, maka setiap kegiatan pengelolaan sampah harus mengikuti cara-cara yang baik dan benar. Apa pentingnya pengelolaan sampah disekolah ? Pada prinsipnya semakin sedikit dan semakin dekat sampah dikelola dari sumbernya, maka pengelolaannya akan semakin mudah dan baik, serta lingkungan yang terkena dampak juga semakin sedikit.
    Tahapan-tahapan pengelolaan sampah disekolah adalah :
    a.       Pencegahan dan pengurangan sampah dari sumbernya. Kegiatan ini dimulai dengan kegiatan pemilahan atau pemisahan organik dan anorganik dengan menyediakan tempat sampah organik dan anorganik disetiap kawasan sekolah.
    b.      Pemanfaatan kembali sampah terdiri atas :
    1.      Pemanfaatan sampah organik, seperti komposting (pengomposan) sampah yang mudah membusuk dapat diubah manjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan untuk melestarikan fungsi kawasan sekolah. Berdasarkan hasil penelitian bahwa dengan melakukan kegiatan composting sampah organik yang komposisinya mencapai 70 % dapat direduksi hingga mencapai 25 %.
    2.      Pemanfaatan sampah anorganik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pemanfaatan kembali secara langsung, misalnya pembuatan kerajinan yang berbahan baku dari barang bekas, atau kertas daur ulang. Sedangakan pemanfaatan kembali secara tidak langsung, misalnya menjual barang bekas seperti kertas, plastic, kaleng, koran bekas, botol, gelas dan botol air minum dalam kemasan.
    3.      Tempat pembuangan sampah akhir. Sisa sampah yang tidak dapat dimanfaatkan secara ekonomis baik dari kegiatan komposting maupun pemanfaatan sampah anorganik, jumlahnya mencapai + 10 % harus dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) disekolah.
    Selain itu untuk menciptakan suatu kondisi sekolah yang sehat, sekolah harus memenuhi kriteria, antara lain kebersihan dan ventilasi ruangan, kebersihan kantin, WC, kamar mandi, tempat cuci tangan, melaksanakan pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan, bimbingan konseling dan manajemen peran serta masyarakat.
    3.      Pengelolaan Energi di Sekolah
    Penggunaan energi di sekolah sangat penting agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Penggunaan energi disekolah biasanya untuk menerangi ruangan-ruangan, menyalakan barang-barang eletronik seperti komputer dan media pembelajaran, mengalirkan pompa air dll.
    Terhadap fasilitas umum seperti sekolah, hendaknya kita bersama-sama bertanggung jawab untuk memelihara dan menghemat pada saat pemakaiannya. Banyak cara yang dapat kalian lakukan dalam rangka pengelolaan energi disekolah, misalnya melalui penggunaan cahaya matahari untuk menerangi ruangan-ruangan belajar dikelas, perpustakaan, laboratorium, dll. Menghemat pemakaian air karena dialirkan menggunakan listrik, mematikan lampu-lampu yang masih menyala saat siang hari. Mematikan alat-alat elektronik seperti komputer dan televise saat sedang tidak digunakan.
    4.      Pengelolaan Halaman Sekolah
    Sekolah sebagai tempat belajar perlu memiliki lingkungan yang bersih dan sehat agar tercipta suasana belajar yang nyaman. Kita bisa membayangkan apabila sekolah kita kotor dan tidak sehat, tentu sangat mengganggu kegiatan belajar mengajar. Pastikan ruangan kelas kalian bersih dari sampah, debu dan bau yang tidak sedap. Bahkan kalian bias menambahkannya dengan wangi-wangian dan tanaman hidup dalam pot.
    Lingkungan sekolah yang bersih dan sehat tidak hanya di dalam kelas tetapi juga diluar kelas, seperti di halaman. Halaman sekolah selain di tata keindahannya, juga perlu memperhatikan persyaratan kesehatan. Halaman sekolah yang tidak sehat dapat menimbulkan berbagai macam penyakit sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman bagi semua warga sekolah.

    Artikel Terkait :

    Kurikulum KTSP

        Kurikulum  KTSP adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP atau kurikulum KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai pada Tahun Pelajaran 2007/2008 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP.
        Secara prinsip, KTSP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Standar Isi (SI,) namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar disesuaikan dengan kebutuhan sekolah masing-masing. Pelaksanaan KTSP mengacu pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.
    Standar isi (SI) adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam persyaratan kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi merupakan pedoman untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang memuat:
    • kerangka dasar dan struktur kurikulum,
    • beban belajar,
    • kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dikembangkan di tingkat satuan pendidikan, dan
    • kalender pendidikan.
        Standar Kompetensi Lulusan (SKL) digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. SKL meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran. Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.
    Pemberlakuan KTSP, sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL, ditetapkan oleh kepala sekolah setelah memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah. Dengan kata lain, pemberlakuan KTSP sepenuhnya diserahkan kepada sekolah, dalam arti tidak ada intervensi dari Dinas Pendidikan atau Departemen Pendidikan Nasional. Penyusunan KTSP selain melibatkan guru dan karyawan juga melibatkan komite sekolah serta bila perlu para ahli dari perguruan tinggi setempat. Dengan keterlibatan komite sekolah dalam penyusunan KTSP maka KTSP yang disusun akan sesuai dengan aspirasi masyarakat, situasi dan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat.
              

           Artikel Terkait :