Cara Belajar Filsafat (2)

Mungkin Anda sudah membaca tulisan saya yang berjudul Cara Belajar Filsafat (1). Dalam tulisan itu dijelaskan cara saya belajar filsafat untuk pertama kalinya dan perjalanan saya ketika belajar filsafat di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hingga akhirnya lulus di tahun 2003. Walaupun belajar dengan serabutan, saya masih bisa belajar filsafat dengan baik karena tertolong dengan perkuliahan yang saya ikuti di fakultas. Namun, dalam bayangan saya, seandainya saya tidak pernah menjadi mahasiswa filsafat, mungkin ceritanya akan lain. Saya mungkin belum tentu bisa belajar filsafat dengan baik.

Dengan pikiran serupa ini, muncul gagasan dalam benak saya untuk mencari tahu cara belajar filsafat yang baik dengan lebih mudah dan sederhana. Mudah dengan arti kita dapat mempelajari filsafat tanpa kepayahan, dan sederhana yang berarti kita akan dapat belajar filsafat tanpa harus dipusingkan oleh teori-teori filsafat yang njelimet atau susah dicerna. Walaupun demikian, gagasan ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru, karena mungkin ada banyak orang yang sudah menerapkan gagasan ini lebih baik dari saya. 

Contohnya adalah Jostein Gaarder, seorang pengajar filsafat dari Oslo, Norwegia, yang mengarang buku "Sofies verden" (Sophie's World) sebagai wahana baru untuk menjelaskan sejarah filsafat melalui novel. Versi Indonesia untuk buku ini telah diterjemahkan oleh penerbit Mizan dengan judul Dunia Sophie. Selain pada Gaarder, saya juga berhutang budi pada mas Antariksa, salah seorang senior saya di Fakultas Filsafat UGM. Dia yang mengajarkan pada saya, walaupun tidak secara langsung, untuk belajar filsafat secara having fun atau menyenangkan. Itu karena dia adalah orang yang tidak mau dipusingkan oleh teori-teori filsafat yang njelimet. (Mas Antariksa ini aktif mengelola jurnal Kunci yang mengangkat tema Cultural Studies semenjak 1999 hingga sekarang)

Gaarder memberikan contoh buat saya untuk mempelajari filsafat dengan enak dan mas Antariksa mengajarkan pada saya untuk tidak selalu berpaku pada teori filsafat yang njelimet. Namun, tidak ada yang mengajarkan pada saya suatu cara untuk belajar filsafat dengan mudah. Meskipun begitu, saya tidak pernah merasa segan untuk mencari cara belajar filsafat dengan mudah. Ini diperuntukkan bukan hanya bagi saya secara pribadi, tetapi juga bagi Anda yang senang belajar filsafat. 

Untuk mendapatkan solusinya, saya akan mencoba menganalisis terlebih dahulu cara belajar saya yang telah lalu.

Ketika saya belajar filsafat untuk yang pertama kali, saya ini sebenarnya menggunakan cara learn by try (belajar dengan coba-coba). Ini adalah cara belajar yang umum dipakai oleh setiap orang ketika ia dihadapkan pada masalah atau persoalan yang belum ia kenal sepenuhnya. Bahkan, pada riset yang paling canggih sekalipun di bidang ilmu dan teknologi, cara ini masih dipakai. Terutama untuk menemukan sesuatu yang baru dan riset itu tidak pernah dilakukan sebelumnya. 

Walaupun demikian, tetap ada kelemahan dalam cara ini. Sebab, cara belajar seperti ini lebih banyak menghabiskan waktu, tenaga, dan tentu saja biaya. Padahal, kita tahu, setiap orang memiliki waktu, tenaga, dan harta yang terbatas. Dalam kaitannya dengan masalah ini, belajar filsafat seringkali dipandang sebagai sesuatu yang mahal dan mewah. Itu karena dalam pikiran orang awam, filsuf itu dibayar hanya untuk "melamun". (Wah, enak dung? ^_^)

Oleh karena itu, kita sebaiknya memilih cara belajar yang lain. Cara belajar lainnya yang mungkin dapat kita lakukan ada dua macam, yaitu (1) learn by experience dan (2) learn by guidance. Cara belajar pertama difokuskan pada bagaimana caranya kita mempelajari sesuatu dengan berdasarkan pada pengalaman yang kita miliki. Sedangkan pada yang kedua, cara belajarnya terfokus pada petunjuk yang akan mengarahkan kita pada tujuan pembelajaran.

Pada cara belajar yang pertama, belajar filsafat akan menjadi lebih mudah dipahami bila masalah filsafatnya dikaitkan dan dijelaskan dengan apa yang kita alami sehari-hari. Contoh untuk uraian ini sudah saya terapkan ketika saya menjelaskan kenapa kita harus belajar filsafat dalam posting Mengapa Belajar Filsafat? dan posting yang berjudul Mau ke mana? yang menjelaskan arah kita dalam berfilsafat.

Sedangkan pada cara belajar yang kedua, inilah yang ditempuh ketika seseorang belajar filsafat di perguruan tinggi. Namun, model belajar filsafat di perguruan tinggi menjadi tidak efektif ketika dilaksanakan dalam kelas yang besar dan terdiri dari banyak orang. Belajar filsafat dengan model learn by guidance hanya akan berlaku efektif bila diterapkan pada hubungan Guru dan Murid satu-satu. Artinya, murid ini dibimbing khusus secara pribadi oleh seorang Guru. Ini mirip ketika seorang mahasiswa mengajukan skripsi sebagai syarat untuk ujian akhir yang dibantu oleh Dosen Pembimbing. (Kalau dosennya bukan ahli di bidang yang dipilih ma mahasiswa gimana ya? Hehe...) 

Dengan memperhatikan model-model belajar yang telah disebutkan, memang masing-masing cara belajar memiliki kelebihan dan kekurangannya. Namun, yang terpenting sekarang ini, bagaimana menggunakan tiga model belajar tersebut secara komplementer (saling melengkapi) ketika kita belajar filsafat. Oleh karena kita menginginkan belajar filsafat dengan mudah dan sederhana, maka tentu saja ada cara yang efektif dalam menggunakannya. Berikut ini, ada beberapa tip yang bisa Anda gunakan.

  1. Untuk tema-tema yang pokok dan mungkin relatif sulit dicerna, khususnya yang berkaitan dengan tema Filsafat Sistematis dan Filsafat Regional, Anda sebaiknya menggunakan cara belajar belajar filsafat dengan model learn by guidance. Sebab, cabang filsafat seperti Logika, Ontologi, Aksiologi, serta Epistemologi tidak setiap orang suka dan menguasainya. Apalagi cabang yang sangat khusus dan berhubungan dengan ilmu lain, misalnya Filsafat Hukum dan Filsafat Matematika, orang yang belajar ini sedikitnya dituntut untuk menguasai masalah hukum dan matematika. Terus, berkaitan dengan Filsafat Regional, learn by guidance akan sangat membantu ketika Anda harus membaca teks-teks orisinal dalam bahasa-bahasa asing (seperti bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Arab, Hindi, Cina), maupun bahasa-bahasa nusantara (seperti bahasa Melayu, Batak, Sunda, Jawa, dan bahasa lainnya).

  2. Untuk tema Filsafat Historis, Anda bisa menggunakan model learn by try karena ini relatif mudah dicerna dan dapat dilakukan secara otodidak. Hal ini dapat terlaksana karena teks sejarah biasanya ditulis dalam gaya naratif atau cerita. Referensi yang paling baik untuk ini adalah buku Jostein Gaarder tersebut di muka yang berjudul Dunia Sophie dari penerbit Mizan.

  3. Untuk berfilsafat secara mandiri, model yang paling cocok adalah model learn by experience. Di sini, usahakan Anda temukan kaitan yang paling dekat antara suatu masalah filsafat dengan pengalaman sehari-hari.

 
Nah, mungkin ini yang bisa saya sampaikan untuk penjelasan mengenai cara belajar filsafat yang mudah sekarang ini. Mudah-mudahan ini bisa membantu Anda belajar filsafat secara lebih baik. ;-)


Cara Belajar Filsafat (1)

Salam ... !!!

Selamat bertemu lagi dengan saya di sini. Pertama-tama saya mau ucapin maaf yang sebesar-besarnya karena postingnya telat lagi. Kedua, saya ingin mengucapkan selamat Idul Fitri 1429H dan semoga segala sesuatunya menjadi hikmah dan berkah buat Anda semua. Ketiga, saya lupa lagi. Hehe ...

Oh iya, sesuai judulnya, sekarang ini kita akan membahas cara belajar filsafat. Ini merupakan materi yang gampang-gampang susah untuk dilaksanakan. Sebab, cara belajar sangat bergantung pada karakter masing-masing pribadi yang amat khas. Ada pribadi yang suka belajar dengan tekun dan rutin. Ada yang senang belajar sambil bersantai dan mendengarkan musik. Ada pula yang hanya belajar pada saat mau ujian, alias belajar dengan model SKS (Sistem Kebut Semalam). (Kebanyakan orang Indonesia kayaknya lebih suka dengan yang terakhir. ;-) )

Nah, dalam kaitannya dengan cara belajar filsafat, karakter seperti ini akan sangat mempengaruhi pola belajar filsafat. Walaupun demikian, tetap saja ada pola umum yang dapat kita pakai dalam mempelajari filsafat. Di sini, saya akan mengetengahkan pola umum yang paling mudah dilaksanakan. Cara belajar yang dimaksud akan dijelaskan melalui contoh ketika saya belajar filsafat pertama kali.

Ketika Anda mempelajari filsafat pertama kali, tentunya kebingungan akan hadir dan terus membayangi Anda. Anda biasanya akan dibingungkan oleh masalah-masalah: saya harus belajar dari mana, saya harus belajar apa; apakah saya harus belajar dengan sistematik atau tidak; apakah saya harus mempelajari seluruh materi filsafat atau hanya sebagian saja; apakah ada manfaatnya kalau belajar filsafat apa tidak; apakah saya akan 'gila' atau menjadi 'tidak waras' kalau belajar filsafat apa tidak; dan yang terakhir, mungkinkah saya belajar filsafat apa tidak.

Semua kebingungan atau kekhawatiran yang muncul ini adalah wajar dan saya juga mengalaminya. Pada saat situasi ini muncul, dulu saya memilih untuk belajar filsafat dengan cara mempelajari sejarahnya. Artinya, saya mulai masuk dalam dunia filsafat dengan mengawalinya pada materi sejarah filsafat. Walaupun cukup efektif buat saya ketika itu, namun saya dihadapkan pada pengembaraan nan panjang dan melelahkan. 

Bagaimana tidak, saya dengan tidak sadar 'dipaksa' untuk mempelajari sejarah filsafat yang terentang selama kurang lebih dari 2500 tahun. Saya larut dan kemudian mempelajari secara otodidak sejarah filsafat Yunani, Islam, India, Cina, Barat di masa Abad Pertengahan, Abad Pencerahan, Abad XVI hingga Abad XX. Walaupun tidak sepenuhnya otodidak karena saya mendapatkan arahan dari mata kuliah sejarah filsafat yang diberikan di Fakultas, saya tetap merasa tidak puas dengan uraian-uraian dosen saya tersebut. Pernah satu waktu saya bertanya dalam mata kuliah Sejarah Filsafat Islam tentang teori Emanasi yang diungkapkan Al-Farabi mengikuti uraian Emanasi Plotinus, dosen saya tersebut malah bilang untuk tidak 'ngeyel'. 

Saya bertanya-tanya dalam hati. Saya kan kuliah untuk mendapatkan penjelasan atau jawaban. Kenapa malah saya tidak boleh bertanya tentang masalah itu? Walaupun agak nggrundel dalam hati, saya tetap ikuti kuliah itu hingga akhir. Saya mendapatkan nilai A untuk mata kuliah Sejarah Filsafat Islam. Tetapi saya tidak mendapatkan pengetahuan apapun kecuali pengenalan terhadap tokoh-tokoh Filsafat Islam beserta pengenalan atas teori-teori yang diungkapkannya. Akhirnya, saya mulai mendapatkan sedikit gambaran yang cukup baik ketika memutuskan untuk membaca buku biografi Ibn Sina secara otodidak tanpa terlalu peduli dengan buku teks yang dianjurkan. 

Inilah gambaran sederhana cara saya belajar filsafat untuk pertama kali. Meskipun begitu, ketika saya mulai masuk dalam ranah kajian filsafat secara lebih jauh, saya kembali dihadapkan pada kebingungan untuk memilih cabang filsafat apa yang akan saya telaah lebih serius. Apakah Metafisika atau Ontologi, Aksiologi, Etika, Epistemologi, Filsafat Ilmu, atau cabang lainnya. Saya mencoba memulainya dari Metafisika. Namun, karena kekurangan referensi yang membahas bidang ini, saya urung mempelajarinya secara serius. 

Titik terang untuk mempelajari cabang filsafat mulai muncul lagi-lagi karena pengembaraan saya dalam sejarah filsafat. Kali ini saya terpikat dengan tokoh yang bernama Ludwig Wittgenstein. Ia adalah seorang filsuf Jerman-Inggris yang menekuni bidang Mesin Pesawat Terbang di awal kuliah, namun berbelot menekuni filsafat karena dorongan untuk mempelajari Matematika secara lebih mendalam. Melalui Wittgenstein, saya didorong untuk menekuni Filsafat Bahasa hingga akhirnya bergerak ke bidang Semiotika.

Ketika saya asyik dengan semua pembelajaran itu, tak terasa saya harus menyiapkan skripsi sebagai ujian terakhir mempelajari filsafat di kampus pada tahun 1999. Lagi-lagi saya bingung harus mengambil tema apa yang sesuai dengan minat filosofis saya waktu itu. Saya siapkan judul mulai dari tema Logika, teori "Public Sphere"-nya Jurgen Habermas, hingga kajian mengenai Wittgenstein itu sendiri. Namun demikian, saya malah tertambat hati dengan tema Cyberspace setelah membeli buku Cyberspace for Beginner terbitan Mizan dari tukang buku loakan di jalan yang membelah kampus IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) ke arah jalan Gejayan.

Keputusan pun dibuat dan akhirnya saya mengajukan skripsi filsafat dengan tema Cyberspace. Teman-teman di kampus pun rada-rada kaget. Apa hubungannya Cyberspace dengan filsafat? Mereka mengajukan pertanyaan itu sering kali. Bagaimana pun juga itu adalah sesuatu yang lumrah karena di tahun 1999 Internet belum begitu menjamur dan hanya sedikit orang yang paham akan Internet. Tetapi, saya nekat. Saya paksa diri saya untuk belajar sesuatu yang baru untuk menemukan sisi filosofisnya. Akhirnya, melalui perjuangan selama empat tahun, jadilah skripsi saya. (Duh, lama banget bikinnya! Termasuk orang yang menyandang gelar MA (Mahasiswa Abadi) ya? ... Iya nih, gak salah tuh. Hehe...)

Duh, ko jadi cerita ya? Maaf, tapi inilah cara saya belajar filsafat. Jadi, saya terpaksa memaparkannya panjang lebar untuk menjelaskan pola belajar filsafat yang saya miliki. Terkesan serabutan dan tidak efektif memang, meski mudah untuk dilaksanakan. Oleh karena alasan ini, saya akan mencoba untuk menyusun cara belajar filsafat yang lebih efisien dan efektif pada posting selanjutnya. Demikian, tulisan saya untuk cara belajar filsafat bagian pertama. Mohon kritik dan sarannya!




EPISTEMOLOGI DALAM FILSAFAT


ILMU DAN KEINGINAN TAHU
Salah satu bagian filsafat yang membahas pengetahuan iala epistemology. Epistemologi itu membicarakan pengartuhan dari pangkal sampai ujung. Melalui epistemology akan menyadarkan kita tentang berbagai hal yang menyangkut masalah sendi pengetahuan, wilayah bahasan, proses, bobot, sehingga memperoleh pengetahua yang sejati. Untuk maksu tersebut”Gudang Filsafat” akan menyadap buku yang membahasa Epistemologi dalam filsafat, berkisar pada Ilmu dan Keinginan Tahu.
Data Buku:
JUDUL: Ilmu dan Keinginan Tahu—[Epistemologi dalam Filsafat]
PENULIS: Drs. Mudlor Achmad
PENERBIT: Trigenda Karya. Koipo Plaza B-19. Jl.Peta—Lingkar Selatan Bandung –40265
ISBN: 979-8422-38-4
CETAKAN: I—1994
TEBAL: 109 hlm: 2,8 cm
Sandapan Ringkas:

Sasaran Pengetahuan:

  1. Alam—yang dikaji kosmologi
  2. Manusia—yang dibahas antropologi
  3. Tuhan—yang dibicarakan theodicea

Jenis sasaran pengetahuan, dilihat dari arah Obyek [yang dimati]:

  1. Objek material, ialah sesuatu yang diamati secara menyeluruh [integral].
  2. Objek forma, ialah bagian tertentu yang diamati dari sesuatu [parsial]

Jenis sasaran pengetahuan, dilihat dari subyek (yang mengamati) :

  1. Objek empiris [obyek rasa], yaitu sasaran yang pada dasrnya ada dan dapat ditangkap oleh indera lahir [pancaindra]
  2. Objek ideal [objek bukan rasa], yaitu sasaran yang pada dasarnya tiada dan menjadi ada berkat kegiatan sukma atau akal
  3. Objek transenden [objek luar rasa], yaitu sasaran yang pada dasarnya ada, tetapi berada di luar jangkauan pikiran dan perasaan manusia

Sasaran secra global—(dua lingkup sasaran):

  1. alam, dobicarakan dalam kosmologi –[filsafat alam]
  2. manusia, dibahas dalam antropologi—[filsafat manusia]


Sepuluh lingkup sasaran secara detil:

  1. Hakikat [essence] ialah hal yang menjadikan sesuatu sebagai sesuatu hal tertantu [sebagai demikian]. Esensi adalah istilah yang berhubungan dengan hal yang pokok, tapi khusus
  2. Zat [substance], ialah sesuatu yang mengandung kualitas serta sifat kebetulan dan mendasari atau dipunyai sesuatu [barang jadi]
  3. Ada [being] ialah pengertian yang mencakup segala sesuatu, baik yang alami [pengalami] maupun yang akali [pikiran]
  4. Kenyataan [reality] ialah sesuatu yang ditangkap dalam tangkapan yang dapat dipercaya, yaitu tangkapan yang tidak mengandung kesalahan
  5. Keberadaan [existence] ialah keadaan tertentu yang lebih khsus dari sesuatu. Apa yang bereksistensi, tentu nyata ada, bukan sebaliknya, dan bersifat public [artinya objek itu sendiri harus ata dapat dialami olehbanyak orang yang melakukan pengamatan]
  6. Bahan [mater] ialah sesuatuyang menjadio sala barang sesuatu [barang jadi] dibuat. Materi menunjuk nama jenis substansi yang khusus dan mendasar dari alam fisik, yaitu lingkungan yang menimbulkan pengalaman indrawi
  7. Bentuk [form] ialah susunan [struktur] yang membedakan sesuatu dari sesuatu yang lain. Yang dimaksud bukan bangunnya.
  8. Perubahan [change] ialah apa yang terjadi pada saat sesuatu hal menjadi hal yang lain. Dengan kata lain, perubahan adalah peralihan sesuatu dari keadaan tertentu menjadi keadaan yang berbeda dengan keadaannya semula.
  9. Sebab [casuality] ialah sesuatu yang mendorong atau amenceghah sesuatu perubahan. Sebab—akibat merupakan keadaan berhubungan. Jadi, kasualitas serentak berkaitan dengan perhubungan dan perubahan sekaligus
  10. Hubungan [relation] ialah sesuatu kaitan atau ikatan [koneksi] antara dua hal atau beberapa hal. Relasi terdapat pada berbagai hal, berdasarkan ruang, waktu, kualitas, kuantitas, asal-usul, dll.

Mau ke mana?


Nah, setelah kita mempelajari beberapa tulisan pengantar mengenai filsafat, tentu muncul lagi pertanyaan dalam benak kita. Pertanyaan itu tidak lain daripada "Kita harus mulai belajar filsafatnya darimana?" Kalau ini memang pertanyaan Anda, maka pertanyaan ini kira-kira akan memiliki jawaban sebagai berikut.

Belajar filsafat sebenarnya dapat dimulai dari pertanyaan yang paling Anda sukai atau paling membuat Anda bingung. Kenapa demikian? ;-) Ini karena pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang akan memberikan energi kreatif buat Anda untuk belajar filsafat. Untuk lebih jelasnya, kita akan bahas dalam contoh di bawah ini.

Ani punya satu pertanyaan dalam hidup yang mungkin ia sukai. Pertanyaan itu adalah "Kenapa kucing disebut dengan kata 'kucing' atau gajah disebut dengan kata 'gajah'?". Atas pertanyaan ini, Ani juga sering membuat lelucon pada temannya dengan pertanyaan "Kenapa kucing ga disebut dengan 'gajah' atau gajah kenapa ga dibilang saja 'kucing'?". 

Pertanyaan Ani ini, walaupun hanya bercanda, tetapi punya akibat yang cukup jauh lho kalau kita pikirkan secara serius. (Walaupun sebenarnya ga serius-serius banget. Hehe... ) Ini berkaitan dengan asal-usul kata. Asal-usul kata atau bahasa kerennya adalah etimologi, sebenarnya berkaitan dengan pengetahuan kita sebagai manusia. Dalam kata yang kita pergunakan sehari-hari, itulah inti dari pengetahuan kita. Misalnya, ketika saya menggunakan kata 'globalisasi', saya semestinya sudah memahami arti kata ini sebelum memakainya. Jadi, pengetahuan saya atas globalisasi akan mewarnai cara saya menggunakan kata tersebut. Kalau pengetahuan saya tidak terlalu baik mengenai globalisasi, maka saya akan jarang menggunakan kata ini. Begitupun sebaliknya. (Tapi, jangan salah juga nih. Banyak di antara kita yang sering menggunakan kata globalisasi lho! Itu tuh, persis dilakukan oleh para kepala desa yang pengen dianggap pintar atau para calon kepala desa yang sok tahu dan biar dibilang keren. Hehe... Eh, maaf, hanya sebagian aja lagi. ;-) )

Kembali pada pertanyaan Ani, seekor kucing disebut dengan 'kucing' atau gajah disebut dengan 'gajah' ini karena kesepakatan. Walaupun ada banyak alternatif kata untuk kucing, seperti 'meong' atau 'puspus', tetapi kata 'kucing' lah yang dipilih oleh masyarakat sebagai istilah untuk hewan yang diberi nama kucing. Kalau masyarakat sepakat dengan kata 'gajah' untuk nama yang ditujukan bagi hewan yang sebenarnya bernama kucing, maka jadilah 'gajah' ini kata baru untuk hewan yang bernama kucing.

Dengan pertanyaan yang Ani ajukan, kita secara tidak langsung sebenarnya dibawa masuk pada ranah atau wilayah filsafat yang disebut dengan epistemologi dan sekaligus filsafat bahasa. Epistemologi adalah suatu cabang kajian utama dalam filsafat yang mempelajari bagaimana pengetahuan itu diperoleh, dibentuk, dan dipergunakan oleh manusia. Sedangkan filsafat bahasa, ini adalah cabang lain dari filsafat yang secara khusus mempelajari apa itu bahasa dan seluk-beluknya.

Oleh karena itu, pertanyaan mulai dari manakah kita harusnya belajar filsafat ditentukan oleh pertanyaan awal yang kita buat. Sebab, melalui pertanyaan yang kita buat akan menentukan arah kita belajar filsafat selanjutnya. Kita harus belajar apa dan mau ke mana kita menuju, semuanya kembali pada pertanyaan awal kita yang mendasar. Inilah yang mungkin dimaksud dengan directions in philosophy. So, buatlah satu pertanyaan terlebih dahulu yang paling menarik buat Anda sebelum belajar lagi filsafat bersama saya. ;-)




FILSAFAT ILMU DITAMPILKAN SETENGAH KOMIK

Mendengar kata filsafat ilmu identik dengan sebuah sajian yang perlu kegiatan mengkerutkan dahi, ditambih harus berpusing-pusing. Sudah menjadi perbincangan umum bahwa mempelajari filsafat itu harus ekstra cermat dan masih ditambah lagi kemampuan memeras otak. Kadang juga dimitoskan bahwa tidak setiap orang memilki kemampuan untuk mencerna pembelajaran filsafat, dan hanya harus khusus yang memilki kepandaian tertentu. Itu semua tidak benar. Dan mitos itu harus ditanggalkan.
Seorang-orang dokter bernama Djohanjah Marzoeki ingin menghapus stigma negative, jika mempelajari filsafat itu tidak sulit. Kini pak dokter bersolusi, membuat buku filsafat ilmu dibuat mudah, dengan punuh visualisasi, sehingga lahir buku “setengah komik”
Siapa saja yang ingin mudah, silakan membaca.
Data buku
JUDUL: Budaya Ilmiah dan Filsafat Ilmu
PENULIS: Djohanjah Marzoeki
PENERBIT: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Jl. Palmerah Selatan 22-28, Jakarta 10270
ISBN: 979-669-808-0
CETAKAN : I—2000
[buku ini di editori oleh—R.Masri Sareb Putra, seorang-orang yang piawai dalam bidang penerbitan]

THOMAS KHUN: THE STRUCTUR OF SCIENTIFIC REVOLUTION


SADAPAN BUKU THOMAS KUHN :

JUDUL: Thomas Kuhn dan Perang Ilmu
PENULIS: Zianuddin Sardar
PENERBIT: Jendela. Jl. Gejayan Gg. Buntu II No. 5A . Mrican Yoguakarta 55281 Telp. 0274-518886. E-mail: jendela_press@kompascyber.com
ISBN: 979-95978-99-3
CETAKAN: I—Oktober 2002
Tebal : vii + 80; 11 x 175 cm
[Judul Asli Thomas Kuhn and the Science Wars. UK: Icon Books dan USA: Totem Books, 2000—penerjemah : Sigit Djatmiko]
-------:

Munculnya sebuah buku “Structure of Scientific Revolutions” pada tahun 1962, yang dikreasi oleh seorang-orang yang dilahirkan di Cincinnati, Ohaio. Dia adalah Thomas Kuhn. Pada tahun 1922 Kuhn belajar Fisika di Havard University, kemudian melanjutkan studinya di pascasarjana, dan memutuskan pindah ke bidang sejarah ilmu.
“Structure of Scientific Revolutions”, banyak mengubah persepsi orang terhadap apa yang dinamakan ilmu. Jika sebagian orang mengatakan bahwa pergerakan ilmu itu bersifat linier-akumulatif, maka tidak demikian halnya dalam penglihatan Kuhn.
Menurut kuhn, ilmu bergerak melalui tahapan-tahapan yang akan berpuncak pada kondisi normal dan kemudian “membusuk” karena telah digantikan oleh ilmu atau paradigma baru. Demikian selanjutnya. Paradigma baru mengancam paradigma lama yang sebelumnya juga menjadi paradigma baru.
Perspektif Kuhn:
Kuhn memandang ilmu dari perspektif sejarawan profesonal tertentu. Ia mengekplorasi tema-tema yang lebih besar, misalnya seperti apakah sesungguhnya ilmu itu di dalam pratiknya yang nyata, dengan analisis konkret dan empiris. Di dalam Structure ia menyatakan bahwa ilmuwan bukanlah para penjelajah berwatak pemberani yang menemukan kebenaran-kebenaran baru. Mereka lebih mirip para pemecah teka-teki yang bekerja di dalam pandangan dunia yang sudah mapan. Kuhn memakai istilah “paradigma” untuk menggambarkan system keyakinan yang mendasari upaya pemecahan teka-teki di dalam ilmu.
Menurut Kuhn, ilmu berkembang melalui siklus-siklus; ilmu normal diikuti oleh revolusi yang diikuti lagi oleh ilmu normal dan kemudian diikuti lagi oleh revolusi.

SADAPAN SINGKAT TENTANG EPISTEMOLOGI DASAR


SADAPAN SINGKAT TENTANG EPISTEMOLOGI DASAR
[Pengantar Dilsafat Ilmu Pengetahuan ]
Data Buku
JUDUL: Epistemologi dasar [Pengantar Filsafat Pengetahuan]
PENULIS: J.Sudarminta
PENERBIT : Kanisius. Jl. Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta 55281. Kotak Pos 1125/Yk Telp. [0274] 588783, 565996. Website: http://www.kanisiusmedia.com/. E-mail : office@kanisiusmedia.com
CETAKAN : I—2002
ISBN: 979-21-0181-0
TEBAL: 196 hlm.


TERMINOLOGI:
Cabang ilmu filsafat yang secara khusus menggeluti pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menyeluruh dan mendasar tentang pengetahuan disebut Epistemologi. Istilah “epistemologis” sendiri berasal dari kata Yunani episteme=pengetahuan dan logis=perkataan, pikiran, ilmu. Kata”episteme” dalam bahasa Yunani berasal dari kata kerja epistamai, artinya mendudukan, menempatkan, atau meletakkan. Maka, harfiah episteme bearti pengetahuan sebaya upaya intelektual untuk “menempatkan sesuatu dalam kedudukan seteptnya.” Selain kata “episteme”, untuk kata “pengetahuan” dalam bahasa Yunani juga dipakai kata “gnosis”, maka istilah epistemologi’ dalam sejarah pernah juga dipakai kata”gnosis”, maka istilah “epistemology” dalam sejarah pernah juga disebut “gnoseologi”. Sebagai kajian kritis filosofis yang membuat telaah kritis dan analitis tentang dasar-dasar teoritis pengetahuan, epistemology kadang juga disebut teori pengetahuan [theory of knowledge; erkentnistheorie]

MAKSUD KAJIAN
Epistemologi bermaksud mengkaji dan mencoba menemukan ciri-ciri umum dan hakiki dari pengetahuan manusia. Bagaimana pengetahuan itu pada dasarnya diperoleh dan diuji kebenarnnya?Manakah ruang lingkup atau batas-batas kemampuan manusia untuk mengetahui ?
Epistemologi juga bermaksud mengkaji pengandaian-pengandaian dan syarat-syarat logis yang mendasari dimungkinkannya pengetahuan itu. Epistemologi juga mencoba memberi pertanggungjawaban rasional terhadap klaim kebenaran dan obyektivitasnya.
Dari maksud itu, maka Epistemologi dapat dinyatakan suatu disiplin ilmu yang bersifat evaluatif, normative, dan kritis. Evaluatif berarti bersifat menilai. Epsitemologi menilai apakah keyakinan, sikap, pernyataan pendapat, teori pengatahuan dapat dibenarkan, diajamin kebenarannya, atau memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara nalar.

RASIONAL MENGAPA MEMPELAJARI EPISTEMOLOGI
Sekurang-kurangnya ada tiga alas an yang dapat dikemukakan mengapa epistemology perlu dipelajari.
  1. Alasan pertama: berangkat dari pertimbangan strategis
  2. Alasan kedua; dari pertimbangan kebudayaan
  3. Alasan ketiga: berangkatdari pertimbangan pendidikan.

Pertimbangan Strategis: Pengetahuan adalah kekuasaan [Knoledge is power. Pengetahuan mempunyai daya kekuatan untuk mengubah keadaan. “Apabila pengetahuan adalah suatu kekuatan yang telah dan akan terus membentuk kebudayaan, menggerakan dan mengubah dunia, sudah semestinyalah apabila kita berusaha memahami apa itu pengethauan, apa sifat dan hakikatnya , apa daya dan ketebatasnnya, apa kemungkinan permasalahannya.
Pertimbangan Kebudayaan: Mempelajari epistemology diperlukan pertama-tama untuk mengungkap pandangan epistemologis yang sesungguhnya ada dan terkandung dalam setiap kebudayaan. Setiap kebudayaan, entah secara implicit ataupun ekplisit, entah hanya lisan atau tulisan , entah secara sistematis ataupun tidak, selalu memuat pandangan tentang pengetahuan.

Pertimbangan pendidikan: berdasarkan pertimbangan pendidikan epistemology perlu dipelajarai karena manfaatnya untuk bidang pendidikan. Pendidikan sebagai usaha sadar untuk membantu peserta didik mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup dan ketrampilan hidup, tidak dapat lepas dari penguasaan pengetahuan. Proses Belajar Mengajar dalam konteks pendidikan selalau memuat unsure penyampaian pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai.